Akhir dari perjuangan tiga tahun mengejar Putri berbuah
manis di pertengahan Januari 2013. Ya, kita pacaran. At least statusnya begitu.
Keras hatinya Putri pun terpatahkan dengan semua usaha yang gue lakukan ke dia.
Mulai dari anter jemput dia, beliin dia baju sampe nulis kisah gue dan dia di
blog gue.
Bagaimana bisa sampai
kita bisa pacaran?
Awal januari, saat-saat itu gue sedang deket-deketnya(lagi) sama
dia. Dan waktu itu dia sakit yang lumayan parah menurut gue, ngga tau menurut
mba-mba operator telkomsel. Hepatitis. Dan dia dirawat dirumah sakit selama
beberapa hari.
Pada waktu-waktu tersebut, gue intens SMS-an sama dia. Entah
cuma nanyain kabarnya atau cuma nanyain harga mpek-mpek di Palembang. Dan
disaat dia sakit, adakalanya dia sendirian, karena jam besuk dan peraturan dari
rumah sakit tersebut. Saat-saat itu lah gue jadi orang yang selalu ada menemani
dia. Ouuuuu….
Ya, mulai dari nanyain dia “udah minum obat belum?” atau
“kapan di ijinin pulang dari rumah sakit?” respon-respon positif dari dia udah timbul
ke gue waktu itu. Walaupun datar. Dan gue ngga tau itu perhatian atau trance. Atau bahkan kerasukan.
*trance
: masa dimana anda sadar atau tidak sadar.
Dan akhirnya, dari perhatian-perhatian tersebut, disebuah
malam di rumah temen gue Risky, gue menyatakan perasaan gue untuk ke tiga
kalinya.
“lo mau ngga kita jadi pacar gue?”
Walaupun memang sedikit ada adu argumen antara gue dan
putri, tetap, gue yakin gue yang akan jadi pemenangnya malam itu. Dan sampai
malam berakhir, ngga ada keputusan yang terjadi. Gue menunggu hingga larut,
tetap ngga ada SMS masuk. Pukul 2.30 sms masuk ke Handphone gue, gue seneng,
gue gembira, gue sangat bahagia waktu itu. Setelah gue liat ternyata itu bukan
putri, itu sms mama minta pulsa “mama sedang di polsek pasar baru tolong
belikan pulsa ke nomor ini nanti diganti”. Gue yang sewot malam itu langsung
membalas “MAMA SAYA KEPALA POLSEK PASAR BARU!!”.
Gue berpikir jangan-jangan dia sedang mempertimbangkan
dengan menghitung weton, shio dan panjang jari. Oke yang terakhir ngga ada
hubungannya. Dan akhirnya dipagi hari, ketika gue mau pulang dari rumah Risky,
waktu itu ada Putra juga. Handphone gue bergetar dan isinya sangat mengejutkan.
Sms itu dari Putri dan isinya.
“oke deh gue mau”
Ya, memang ada kesan seperti terpaksa dalam sms itu tapi gue
tetep seneng pas baca sms. Abis gue baca. Gue teriak diatas motor yang lagi gue
panasin.
“yeeeeyyy!!” sambil mengangkat kedua tangan gue
tinggi-tinggi, tiba-tiba dua temen yang ada disebelah gue pingsan nyium bau
badan gue.
“lo kenapa di?” tanya putra
“gue udah jadian bro..” kata gue kegirangan
“serius lu? Lu berhasil?” kata risky
“iya brooo! Serius gue” kata gue lagi sambil nunjukin sms
putri ke mereka.
“ini kok bacanya, dapatkan promo menarik dari indosat” kata
putra
“eh! Salah, maksudnya yang ini”
Ternyata gue salah nunjukkin sms.
“wih!! Beneran! Selamet ye, ga percuma saran-saran yang kita
kasih kita ke lo” kata putra
Ya memang maklum, selama gue PDKT memang gue di mentorin
sama mereka dan hasilnya nyata. Maka buat kamu para jomblowerss followlah
mereka berdua! *lho
Sms itu pun gue bales dengan “serius?”
“udah ngga usah ditanya, keburu pikiran gue berubah” kata
dia
DAMN YOU!
Itulah awalnya gue pacaran sama dia.
Tapi saat-saat pacaran, semua hal indah yang gue bayangkan
jika pacaran sama dia tidak terjadi.
Selama pacaran kendala-kendala komunikasi selalu terjadi
antara gue dan dia. for your info kita LDR (Lo Doang Relationship). Gue di
Jakarta, dia di Palembang. Awalnya gue menyangkal mitos “kalau LDR itu jalaninnya
susah”. Ternyata keimanan gue akan mitos LDR semakin runtuh. Gue dan putri
semakin jauh.
Gue sering ngga bales sms dia, karena kesibukan gue di
Jakarta. Dan akhirnya dia kesel. Kadang juga gue di gituin sama dia. Hubungan
pasca jadian kitapun makin parah karena terkadang gue selama 3 sampai 4 hari
ngga sms dia untuk sekedar menanyakan kabar.
Pernah ada kalanya gue coba hubungi dia lewat telepon,
karena gue udah bener-bener kangen sama dia tapi dia cuma jawab “masih inget
sama gue” gitu. Kadang gue pengen jawab, “ingetlah….kan lo masih punya utang
sama gue, kapan mau di bayar?”. Tapi gue takut dia tutup telepon dan ga mau
ngomong sama gue.
Makin lama hubungan gue dan putri makin ngga sehat,
diakhir-akhir minggu sebelum hubungan kita bener-bener berakhir kita sama
sekali ngga berkomunikasi. Lewat apapun. Telepon, sms, line atau merpati pos. tua
banget gue. Dan gue sudah merasa kalau itu adalah waktunya kita sudah
berakhir. Dan gue merasa ini ngga boleh
gantung seperti ini, harus ada penyelesaian dan titik temunya. Oke, kalimat
barusan bijak sekali.
Akhirnya, one day gue sms dia. Kita udah sama-sama ngga
kesel, kita udah sama-sama netral.
“eh put, apa kabar lo?”
“baik, kenapa?”
Entah kenapa hari itu gue jadi telalu blak-blakan banget.
“engga, gue cuma mau tanya, kita jadinya gimana ya?
“menurut lu enaknya gimana?”
“ya, kalau kaya gini terus sepertinya kita ngga bisa jalan
terus. Hubungan kita udah ngga sehat”
“terus enaknya gimana?”
“menurut lu?”
“menurut gue sih, berteman aja lebih cocok untuk kita”
“gue setuju, sepertinya begitu”
“ya jadinya?”
“ya sepertinya kita temenan lagi aja deh. Biar sama-sama
enak”
“ya udah deh..”
“semoga pacar lu yang selanjutnya bisa lebih baik dari gue
ya, yang bisa menerima sikap dan prinsip-prinsip lu” kata gue.
“mudah-mudahan ya..”
Semua hal yang dulu gue rencanakan ketika pacaran sama dia
sirna sudah. Dulu gue berencana kalau liburan untuk pergi ke Palembang, liburan
disana dan ketemu sama keluarganya. tapi semua itu ngga akan terjadi lagi untuk
saat ini. Semuanya sudah selesai.
Dan gue merahasiakan ini sama orang-orang yang tau tentang
hubungan gue. Bahkan ke dua orang yang jadi saksi gue jadian yaitu risky dan
putra. banyak hal yang gue pelajari dari hubungan gue yang ini.
Pertama adalah, sebelum kita berhubungan dengan seseorang,
kita harus benar-benar tau siapa dia. kebanyakan kasus adalah, orang dibutakan
dengan cinta. Dan semua yang ada dalam diri dia adalah baik adanya. Kedua, libatkan pemimpin rohani, orang yang
bertanggung jawab atas diri kita secara rohani. Ketiga adalah cari pasangan yang
mendukung kita di semua aktivitas kita, baik rohani maupun jasmani. Yang keempat
adalah ulangi semua step satu sampai tiga supaya kita paham.
Kisah ini berakhir dengan bijaksana. Dan entah kenapa gue
mau mengakhiri ini dengan bijaksana. Mungkin karena desakan Amel untuk segera
post cerita ini.
Siapa Amel?
Amelll disinii.. Wkwkwk ditunggu Putri Part 4nya yaa (´▽`ʃƪ)
BalasHapus