Senin, 19 Agustus 2013

It’s about Putri (Part 3)




Akhir dari perjuangan tiga tahun mengejar Putri berbuah manis di pertengahan Januari 2013. Ya, kita pacaran. At least statusnya begitu. Keras hatinya Putri pun terpatahkan dengan semua usaha yang gue lakukan ke dia. Mulai dari anter jemput dia, beliin dia baju sampe nulis kisah gue dan dia di blog gue.

 Bagaimana bisa sampai kita bisa pacaran?

Awal januari, saat-saat itu gue sedang deket-deketnya(lagi) sama dia. Dan waktu itu dia sakit yang lumayan parah menurut gue, ngga tau menurut mba-mba operator telkomsel. Hepatitis. Dan dia dirawat dirumah sakit selama beberapa hari. 

Pada waktu-waktu tersebut, gue intens SMS-an sama dia. Entah cuma nanyain kabarnya atau cuma nanyain harga mpek-mpek di Palembang. Dan disaat dia sakit, adakalanya dia sendirian, karena jam besuk dan peraturan dari rumah sakit tersebut. Saat-saat itu lah gue jadi orang yang selalu ada menemani dia. Ouuuuu….

Ya, mulai dari nanyain dia “udah minum obat belum?” atau “kapan di ijinin pulang dari rumah sakit?” respon-respon positif dari dia udah timbul ke gue waktu itu. Walaupun datar. Dan gue ngga tau itu perhatian atau trance. Atau bahkan kerasukan.

                *trance : masa dimana anda sadar atau tidak sadar.

Dan akhirnya, dari perhatian-perhatian tersebut, disebuah malam di rumah temen gue Risky, gue menyatakan perasaan gue untuk ke tiga kalinya. 

“lo mau ngga kita jadi pacar gue?” 

Walaupun memang sedikit ada adu argumen antara gue dan putri, tetap, gue yakin gue yang akan jadi pemenangnya malam itu. Dan sampai malam berakhir, ngga ada keputusan yang terjadi. Gue menunggu hingga larut, tetap ngga ada SMS masuk. Pukul 2.30 sms masuk ke Handphone gue, gue seneng, gue gembira, gue sangat bahagia waktu itu. Setelah gue liat ternyata itu bukan putri, itu sms mama minta pulsa “mama sedang di polsek pasar baru tolong belikan pulsa ke nomor ini nanti diganti”. Gue yang sewot malam itu langsung membalas “MAMA SAYA KEPALA POLSEK PASAR BARU!!”.

Gue berpikir jangan-jangan dia sedang mempertimbangkan dengan menghitung weton, shio dan panjang jari. Oke yang terakhir ngga ada hubungannya. Dan akhirnya dipagi hari, ketika gue mau pulang dari rumah Risky, waktu itu ada Putra juga. Handphone gue bergetar dan isinya sangat mengejutkan. Sms itu dari Putri dan isinya.
 
“oke deh gue mau”

Ya, memang ada kesan seperti terpaksa dalam sms itu tapi gue tetep seneng pas baca sms. Abis gue baca. Gue teriak diatas motor yang lagi gue panasin.

“yeeeeyyy!!” sambil mengangkat kedua tangan gue tinggi-tinggi, tiba-tiba dua temen yang ada disebelah gue pingsan nyium bau badan gue. 

“lo kenapa di?” tanya putra
“gue udah jadian bro..” kata gue kegirangan
“serius lu? Lu berhasil?” kata risky
“iya brooo! Serius gue” kata gue lagi sambil nunjukin sms putri ke mereka.
“ini kok bacanya, dapatkan promo menarik dari indosat” kata putra
“eh! Salah, maksudnya yang ini” 

Ternyata gue salah nunjukkin sms.

“wih!! Beneran! Selamet ye, ga percuma saran-saran yang kita kasih kita ke lo” kata putra

Ya memang maklum, selama gue PDKT memang gue di mentorin sama mereka dan hasilnya nyata. Maka buat kamu para jomblowerss followlah mereka berdua! *lho
 
Sms itu pun gue bales dengan “serius?”

“udah ngga usah ditanya, keburu pikiran gue berubah” kata dia

DAMN YOU!

Itulah awalnya gue pacaran sama dia. 

Tapi saat-saat pacaran, semua hal indah yang gue bayangkan jika pacaran sama dia tidak terjadi.
Selama pacaran kendala-kendala komunikasi selalu terjadi antara gue dan dia. for your info kita LDR (Lo Doang Relationship). Gue di Jakarta, dia di Palembang. Awalnya gue menyangkal mitos “kalau LDR itu jalaninnya susah”. Ternyata keimanan gue akan mitos LDR semakin runtuh. Gue dan putri semakin jauh. 

Gue sering ngga bales sms dia, karena kesibukan gue di Jakarta. Dan akhirnya dia kesel. Kadang juga gue di gituin sama dia. Hubungan pasca jadian kitapun makin parah karena terkadang gue selama 3 sampai 4 hari ngga sms dia untuk sekedar menanyakan kabar.

Pernah ada kalanya gue coba hubungi dia lewat telepon, karena gue udah bener-bener kangen sama dia tapi dia cuma jawab “masih inget sama gue” gitu. Kadang gue pengen jawab, “ingetlah….kan lo masih punya utang sama gue, kapan mau di bayar?”. Tapi gue takut dia tutup telepon dan ga mau ngomong sama gue. 

Makin lama hubungan gue dan putri makin ngga sehat, diakhir-akhir minggu sebelum hubungan kita bener-bener berakhir kita sama sekali ngga berkomunikasi. Lewat apapun. Telepon, sms, line atau merpati pos. tua banget gue. Dan gue sudah merasa kalau itu adalah waktunya kita sudah berakhir.  Dan gue merasa ini ngga boleh gantung seperti ini, harus ada penyelesaian dan titik temunya. Oke, kalimat barusan bijak sekali.

Akhirnya, one day gue sms dia. Kita udah sama-sama ngga kesel, kita udah sama-sama netral.

“eh put, apa kabar lo?”
“baik, kenapa?”

Entah kenapa hari itu gue jadi telalu blak-blakan banget.

“engga, gue cuma mau tanya, kita jadinya gimana ya?
“menurut lu enaknya gimana?”
“ya, kalau kaya gini terus sepertinya kita ngga bisa jalan terus. Hubungan kita udah ngga sehat”
“terus enaknya gimana?”
“menurut lu?”
“menurut gue sih, berteman aja lebih cocok untuk kita”
“gue setuju, sepertinya begitu”
“ya jadinya?”
“ya sepertinya kita temenan lagi aja deh. Biar sama-sama enak”
“ya udah deh..”
“semoga pacar lu yang selanjutnya bisa lebih baik dari gue ya, yang bisa menerima sikap dan prinsip-prinsip lu” kata gue.
“mudah-mudahan ya..”

Semua hal yang dulu gue rencanakan ketika pacaran sama dia sirna sudah. Dulu gue berencana kalau liburan untuk pergi ke Palembang, liburan disana dan ketemu sama keluarganya. tapi semua itu ngga akan terjadi lagi untuk saat ini. Semuanya sudah selesai. 

Dan gue merahasiakan ini sama orang-orang yang tau tentang hubungan gue. Bahkan ke dua orang yang jadi saksi gue jadian yaitu risky dan putra. banyak hal yang gue pelajari dari hubungan gue yang ini.

Pertama adalah, sebelum kita berhubungan dengan seseorang, kita harus benar-benar tau siapa dia. kebanyakan kasus adalah, orang dibutakan dengan cinta. Dan semua yang ada dalam diri dia adalah baik adanya.  Kedua, libatkan pemimpin rohani, orang yang bertanggung jawab atas diri kita secara rohani. Ketiga adalah cari pasangan yang mendukung kita di semua aktivitas kita, baik rohani maupun jasmani. Yang keempat adalah ulangi semua step satu sampai tiga supaya kita paham.

Kisah ini berakhir dengan bijaksana. Dan entah kenapa gue mau mengakhiri ini dengan bijaksana. Mungkin karena desakan Amel untuk segera post cerita ini.


Siapa Amel?